Transwhite homenageia as mulheres do transporte com dois camiões especiais – Motorguia
Connect with us

Sem categoria

Transwhite homenageia as mulheres do transporte com dois camiões especiais

Published

on

A empresa portuguesa Transwhite fez uma homenagem às 70 mulheres que todos os dias andam ao volante de um camião. Para isso, adicionou à sua frota, duas viaturas Volvo FH 4×2, uma em azul claro e outra em cor-de-rosa.



Recentemente, a Transwhite decidiu prestar este tributo às mulheres que trabalham no setor dos transportes e que progressivamente têm vindo a conquistar posições que antes eram inimagináveis. A frota da Transwhite tem agora mais duas viaturas Volvo FH 4×2 Trator muito especiais, uma azul claro e outra cor de rosa, ambas conduzidas por mulheres.
A Transwhite iniciou a sua atividade em 2004 com apenas uma viatura, e hoje, devido ao espírito empreendedor do seu fundador e à dedicação da sua equipa, a Transwhite tem cerca de 460 colaboradores, dos quais quase 25% são mulheres.
Com uma frota de mais de 200 viaturas, podemos encontrar mais de 70 mulheres ao volante dos seus camiões, fazendo por isso todo o sentido uma homenagem a estas profissionais.

Click to comment

Leave a Reply

O seu endereço de email não será publicado. Campos obrigatórios marcados com *

Sem categoria

PGRI dan Tantangan Menghapus Pembelajaran Monoton

Published

on


PGRI dan Tantangan Menghapus Pembelajaran Monoton: Menghidupkan Ruh Ruang Kelas

Metode ceramah satu arah yang membosankan adalah warisan masa lalu yang sudah tidak relevan bagi generasi digital native. Siswa saat ini membutuhkan keterlibatan emosional dan kognitif yang tinggi. PGRI menyadari bahwa menghapus pembelajaran monoton bukan sekadar mengganti papan tulis dengan proyektor, melainkan transformasi radikal dalam cara guru berinteraksi dengan ilmu dan siswa.

Mengapa Pembelajaran Cenderung Monoton?

Beberapa faktor penghambat yang sering ditemui di lapangan meliputi:


Strategi PGRI: Memutus Rantai Kebosanan di Kelas

PGRI melakukan langkah-langkah intervensi untuk memastikan setiap sesi belajar menjadi pengalaman yang dinamis melalui tiga pilar aksi:

1. Diversifikasi Metode Melalui Pelatihan “Active Learning”

Melalui jaringan Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI melatih guru untuk menguasai berbagai model pembelajaran aktif seperti Gamification (belajar sambil bermain), Role Play, hingga Flipped Classroom. Tujuannya agar siswa menjadi subjek yang bergerak, bukan objek yang hanya duduk diam.

2. Literasi Konten Kreatif dan Multi-Platform

PGRI mendorong guru untuk menjadi “kreator konten” pendidikan. Guru dilatih menggunakan video pendek, infografis, hingga podcast untuk menyampaikan materi. Dengan variasi media, sensorik siswa terstimulasi secara beragam sehingga fokus belajar tetap terjaga.

3. Budaya Refleksi dan Umpan Balik (Feedback)

PGRI mengampanyekan pentingnya guru mendengarkan suara siswa. Pembelajaran yang tidak monoton adalah pembelajaran yang responsif. Guru didorong untuk rutin meminta masukan dari siswa mengenai metode mana yang paling mereka sukai, sehingga terjadi perbaikan berkelanjutan di setiap pertemuan.


Menjadikan Ruang Kelas sebagai Laboratorium Antusiasme

Menghapus kebosanan berarti memberikan ruang bagi kejutan dan penemuan. PGRI memastikan bahwa guru memiliki keberanian untuk mencoba hal baru, meskipun sederhana, guna memicu rasa ingin tahu (curiosity) siswa yang merupakan mesin utama pembelajaran.

“Musuh terbesar pendidikan bukanlah ketidaktahuan, melainkan kebosanan. Kelas yang hidup adalah kelas di mana guru dan siswa sama-sama tidak sabar untuk memulai diskusi.”

Continue Reading

Sem categoria

PGRI dalam Mendorong Guru Berpikir Out of the Box

Published

on

PGRI dalam Mendorong Guru Berpikir Out of the Box: Mendobrak Batas Pendidikan Konvensional

Di tengah kurikulum yang terus bertransformasi, guru sering kali terjebak dalam zona nyaman administrasi dan metode ceramah yang monoton. PGRI menyadari bahwa masa depan siswa tidak bisa dibangun dengan cara-cara lama. Berpikir out of the box berarti guru harus mampu melihat peluang di balik hambatan, menciptakan solusi kreatif atas keterbatasan fasilitas, dan menyesuaikan cara mengajar dengan gaya belajar generasi digital.

Mengapa Guru Harus Berpikir Out of the Box?

Beberapa alasan fundamental yang mendasari urgensi kreativitas tanpa batas ini antara lain:


Strategi PGRI: Memfasilitasi Ekosistem Inovasi

PGRI melakukan langkah-langkah konkret untuk menumbuhkan budaya berpikir kreatif di kalangan pendidik melalui tiga pilar aksi:

1. Transformasi Smart Learning and Character Center (SLCC)

SLCC bukan hanya tempat pelatihan teknis, melainkan laboratorium ide. PGRI mendorong guru untuk melakukan “uji coba” metode pembelajaran baru, seperti Gamification, Flipped Classroom, hingga penggunaan Augmented Reality (AR). Di sini, guru diajak untuk berani salah dalam bereksperimen demi menemukan cara terbaik untuk mengajar.

2. Kompetisi Inovasi Pembelajaran Masif

PGRI rutin menyelenggarakan ajang penghargaan bagi guru-guru inovatif. Dengan memberikan panggung bagi mereka yang memiliki ide “gila” namun efektif, PGRI menciptakan standar baru bahwa guru hebat adalah guru yang berani tampil beda dan memberikan dampak nyata bagi antusiasme belajar siswa.

3. Advokasi “Kemerdekaan Mengajar”

PGRI aktif menyuarakan agar guru tidak lagi dibebani oleh laporan administratif yang kaku. Dengan berkurangnya beban administrasi, guru memiliki “ruang napas” intelektual untuk merenung, berkreasi, dan merancang skenario pembelajaran yang unik dan tidak terduga bagi siswa mereka.


Dari Pengajar Menjadi Arsitek Pengalaman Belajar

Berpikir out of the box mengubah status guru dari sekadar kurir informasi menjadi arsitek pengalaman belajar. PGRI memastikan bahwa setiap guru memiliki kepercayaan diri untuk memodifikasi kurikulum agar sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan unik setiap siswa.

“Kotak itu hanyalah batasan yang kita buat sendiri. Di tangan guru yang kreatif, ruang kelas yang sempit bisa menjadi laboratorium dunia yang tanpa batas.”

Continue Reading

Ultimas do Fórum

Em aceleração