Sem categoria
Peugeot Boxer elétrico já tem preços e encomendas abertas
Com a chegada das primeiras unidades do e-Boxer ao mercado nacional prevista para Fevereiro, a totalidade da gama de Veículos Comerciais Ligeiros (VCL) da Peugeot passa a ter versões eléctricas.

O Peugeot Boxer está a aumentar a sua quota de mercado todos os anos no segmento dos grandes furgões que representa mais de 550.000 veículos por ano na Europa. Com base no seu sucesso comercial ao longo das gerações, com mais de 1.250.000 veículos produzidos e vendidos em 110 países desde o seu lançamento em 1994, o Peugeot Boxer passa agora a integrar a transição eléctrica.
O novo Peugeot e-Boxer eléctrico disponibiliza:
– Dois níveis de autonomia com um máximo de 224 km no ciclo WLTP,
– Duas capacidades de bateria com 37 kWh e 70 kWh,
– Três comprimentos e duas alturas,
– Uma capacidade de carga útil de referência,
– Um volume de carga idêntico ao da versão térmica, até um máximo de 13 m3.

Disponível na versão de equipamento Premium, a gama nacional é composta por 3 furgões (L1H1, L2H2 e L3H2) com preços compreendidos entre os 71.340 euros e os 81.660 euros. Não fazendo cedências em matéria de prestações úteis, de modularidade ou de transformações específicas para os clientes profissionais, o novo Peugeot e-Boxer é também proposto em versões chassis (simples e dupla), com preços de 77.416 euros e de 79.015 euros.
O novo e-Boxer tem uma dupla oferta em termos de autonomia, que depende da carroçaria. As carroçarias furgão L1 e L2 têm uma bateria de iões de lítio de 37 kWh, que lhes permite ter uma autonomia de 117 km em circuito misto. As versões furgão L3, bem como as versões chassis cabine (simples e dupla), estão equipadas com uma bateria de 70 kWh que lhes permite ter uma autonomia de 224 km em circuito misto. Ambas as autonomias estão de acordo com o protocolo de homologação WLTP.
Com um único nível de equipamento Premium, a Peugeot simplifica a gama do novo e-Boxer, dotando-o de série com os seguintes equipamentos principais: Sistema de áudio Bluetooth com ecrã de 5’’ e comandos no volante; Ajuda ao estacionamento traseiro; Ar condicionado manual; Faróis e limpa para-brisas automáticos; Retrovisores elétricos e aquecidos.
O novo e-Boxer é produzido nas instalações de Sevel, em Val di Sangro (Itália), lado a lado com as versões térmicas Peugeot Boxer, estando, depois, o processo de electrificação e homologação a cargo da parceira BEDEO.
Curiosidades
Fábrica da Bentley agitada por Travis Pastrana
A Bentley colocou um Continental GT Supersports nas mãos do piloto Travis Pastrana e o resultado foi o habitual festival de fumo de pneu, drifts e condução de precisão, tudo registado num animado e espetacular vídeo.
Foi na Dream Factory de Bentley em Crewe, na Inglaterra que o piloto Travis Pastrana levou o Bentley Continental Supersports ao limite e a “fábrica dos sonhos” da marca de luxo britânica transformou-se num “pesadelo” para os pneus deste desportivo com 666 cv de potência. Neste vídeo o som do V8 mistura-se com grandes momentos de condução e alguns detalhes do passado e do futuro da Bentley. Esteja atento, usufrua e descubra-os:
Sem categoria
Bagaimana PGRI Menjadi Penghubung Antar Sekolah
Dalam ekosistem pendidikan yang luas, sekolah sering kali terjebak menjadi “pulau-pulau terisolasi” yang hanya fokus pada rutinitas internalnya sendiri. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) hadir sebagai jembatan penghubung yang meruntuhkan dinding pembatas antar sekolah, menciptakan jaringan kolaborasi yang solid dari tingkat desa hingga nasional.
Berikut adalah cara strategis PGRI menjadi penghubung efektif antar sekolah:
1. Menciptakan Forum “Lintas Batas” (Ranting dan Cabang)
PGRI memiliki struktur organisasi di tingkat Ranting (beberapa sekolah bergabung) dan Cabang (tingkat kecamatan).
- Mekanisme: Dalam pertemuan rutin pengurus Ranting, guru-guru dari SD, SMP, hingga SMA yang berbeda duduk di satu meja yang sama.
- Dampaknya: Masalah yang terjadi di Sekolah A bisa dicarikan solusinya berdasarkan pengalaman Sekolah B. Terjadi pertukaran informasi mengenai metode pengajar, penanganan siswa, hingga manajemen sekolah tanpa rasa persaingan yang tidak sehat.
2. Standardisasi Kompetensi melalui Workshop Kolektif
Pemerintah mungkin memberikan pelatihan per sekolah, namun PGRI menyelenggarakannya secara kolektif.
- Mekanisme: PGRI sering mengadakan workshop digitalisasi atau bedah kurikulum yang mengundang perwakilan guru dari seluruh sekolah di satu wilayah.
- Dampaknya: Terjadi penyamaan standar kualitas. Guru dari sekolah pinggiran mendapatkan asupan ilmu yang sama dengan guru dari sekolah unggulan di kota, sehingga kesenjangan kualitas antar sekolah dapat diminimalisir.
3. Porseni: Membangun Koneksi melalui Sportivitas
Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) adalah momen di mana hubungan antar sekolah mencair.
- Mekanisme: Guru-guru melepas seragam sekolah masing-masing dan memakai batik PGRI atau seragam olahraga daerah.
- Dampaknya: Hubungan yang awalnya bersifat formal-birokratis berubah menjadi hubungan persaudaraan. Seorang kepala sekolah bisa berbincang santai dengan guru dari sekolah lain di pinggir lapangan, yang sering kali berlanjut pada kerja sama antar instansi di kemudian hari.
Tabel: Transformasi Hubungan Antar Sekolah melalui PGRI
| Sebelum Terhubung PGRI | Setelah Terhubung melalui PGRI |
| Kompetisi yang kaku antar sekolah. | Kolaborasi untuk kemajuan bersama. |
| Informasi hanya berputar di internal sekolah. | Informasi mengalir deras secara lintas sekolah. |
| Masalah sekolah diselesaikan sendirian. | Masalah diselesaikan melalui pendampingan kolektif. |
| Guru merasa asing dengan rekan di sekolah sebelah. | Terjalin “Jiwa Korsa” sebagai sesama korps guru. |
4. Jaringan “Solidaritas Cepat” saat Krisis
PGRI menjadi penghubung paling krusial ketika salah satu sekolah atau guru mengalami musibah.
- Mekanisme: Jika sebuah sekolah terkena bencana atau seorang guru mengalami intimidasi, PGRI segera menggerakkan sekolah-sekolah lain dalam jaringannya untuk memberikan bantuan moral maupun material.
- Dampaknya: Sekolah yang sedang kesulitan merasa didukung oleh sekolah-sekolah tetangganya, menciptakan ekosistem pendidikan yang tangguh (resilient).
5. Media Komunikasi Terintegrasi (Grup Koordinasi)
PGRI mengelola grup-grup komunikasi digital yang anggotanya terdiri dari lintas sekolah.
- Mekanisme: Grup WhatsApp PGRI tingkat Cabang menjadi “ruang guru raksasa”.
- Dampaknya: Guru bisa bertanya tentang aplikasi kinerja, kebijakan terbaru, atau mencari referensi mengajar kepada ratusan rekan dari sekolah lain secara instan.
Kesimpulan
PGRI bertindak sebagai perekat sosial dan profesional. Dengan adanya PGRI, sekolah-sekolah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergerak sebagai satu barisan yang terorganisir. PGRI memastikan bahwa keberhasilan di satu sekolah dapat diinspirasikan ke sekolah lain, dan beban di satu sekolah dapat dipikul bersama oleh sekolah lainnya.
monperatoto monperatoto monperatoto monperatoto monperatoto situs gacor toto togel situs slot resmi monperatoto monperatoto togel online monperatoto togel-
Notícias2 dias agoRadares em fevereiro
-
Notícias2 semanas agoToyota continua na liderança mundial
-
Notícias2 semanas agoNovo Kia EV5 já tem preços
-
Notícias1 semana agoVolvo apresenta o novo EX60
-
Sem categoria1 semana ago
Bagaimana PGRI Menjadi Penghubung Antar Sekolah
-
Notícias1 semana agoAuto Clássico Militar em Oeiras
-
Notícias1 semana agoSalvador Caetano muda o nome para Caetano
-
Curiosidades2 semanas agoUm Corvette “submarino” recuperado
